Identitas Sosial - Pengertian, Pembentukan, dan Konsekuensinya

Bagaimana kalian dikenal sebagai seseorang? Apakah dari nama, kalian akan dikenal? Bagaimana cara membedakan jika di antara kalian ternyata memiliki nama yang sama? Adakah hal lain yang membedakan satu orang dengan orang lain? Sederet pertanyaan tersebut sesungguhnya sedang mengajak kalian untuk mendiskusikan tentang identitas. Perbincangan tentang identitas tidak hanya berhenti pada aspek pembeda yang ada dalam identitas. Diskusi tentang identitas juga menyangkut bagaimana identitas dibentuk dan terbentuk serta konsekuensi identitas dan refleksi atas konsekuensi identitas tersebut. 

PENGERTIAN IDENTITAS SOSIAL
Lalu, apa yang dipahami sebagai identitas itu? Dalam KBBI, kata identitas mengandung pengertian “ciri-ciri, keadaan khusus seseorang, atau jati diri.” Sedangkan Kamus Merriam-Webster menawarkan penjelasan lebih jauh tentang definisi identitas, yaitu sebagai kesamaan ciri-ciri antar beberapa manusia serta ciri-ciri yang membedakan manusia yang satu dengan yang lain. Ringkasnya, identitas merupakan ciri-ciri yang melekat dan tertanam dalam diri setiap manusia. Pada umumnya identitas disandarkan pada ciri yang bersifat alamiah, seperti jenis kelamin atau identitas berbasis genetik seperti ras. Identitas jenis ini biasanya lebih mudah dikenali secara fisik.

Namun ada pula identitas yang tidak berangkat dari ciri-ciri alamiah, namun karena dilekatkan secara sosial seperti identitas berbasis agama dan suku/etnis. Identitas jenis ini dapat diamati melalui praktik-praktik kehidupan sosial seseorang, misalnya praktik beribadah atau tradisi yang dirawat dan diwariskan oleh suku-suku yang ada. Pada suku tertentu terdapat kebiasaan menambahkan nama marga atau nama keluarga pada keturunan dari suku/marga tersebut. 

Gagasan tentang identitas bahkan berkembang tidak hanya berbasis Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Identitas juga dapat dikaitkan dengan ciri-ciri seperti gaya hidup, keyakinan, bahkan orientasi seksual. Dalam gaya hidup misalnya identitas ditemukan pada kebiasaan makan yang melahirkan identitas vegan (tidak memakan daging/vegetarian) atau bagi kalian yang memiliki hobi bola biasanya teridentifikasi sebagai anggota dari klub suporter. Keyakinan atau ideologi juga dapat menjadi dasar identitas seperti sosialis, penganut liberal, dan sebagainya. Secara singkat, identitas adalah cerminan diri yang berasal dari gender, tradisi, etnis dan proses sosialisasi.

PEMBENTUKAN IDENTITAS SOSIAL
Manusia sebagai mahluk yang berpikir sebagaimana dikatakan Aristoteles. Sebagai mahluk berpikir, maka yang menyadari keberadaan mahluk yang lain adalah manusia, bukan mahluk yang lain tersebut. Ketika berpikir, manusia mempertanyakan keberadaan atau eksistensi dirinya. Manusia menjadi mahkluk yang terus menerus mencari identitas dirinya. Kondisi tersebut tidak terjadi pada mahkluk-mahkluk lainnya. Dengan demikian identitas dipahami sebagai kesadaran tentang konsep diri. Konsep diri merupakan integrasi gambaran diri yang dibayangkan sendiri dan yang diterima dari orang lain tentang apa dan siapa dirinya, serta peran apa yang dapat dilakukan dalam kaitan dengan diri sendiri serta orang lain.

Dari pengertian tersebut, gambaran diri tersebut menyoal tentang bagaimana proses pembentukan identitas di mana identitas terbentuk dan dibentuk. Sebagaimana disampaikan oleh Stuart Hall (1990), pembentukan identitas dapat diteropong dalam dua cara pandang, yaitu identitas sebagai wujud (identity as being) dan identitas sebagai proses menjadi (identity as becaming). Identitas dalam perspektif pertama ditempatkan sebagai ciri-ciri yang terbentuk. Identitas semacam ini diterima sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi oleh para penggunanya. Ciri-ciri ini melekat sejak dari awal permulaan. Ia terbentuk secara alamiah atau dengan sendirinya. Suatu ciri yang dimiliki bersama serta berada dalam diri banyak orang di mana mereka dipersatukan kesamaan genetik, ikatan darah, sejarah dan leluhur. Sudut pandang ini lebih melihat ciri fisik untuk mengidentifikasi mereka sebagai suatu kelompok.

Sedangkan dalam cara pandang kedua, identitas dipahami sebagai ciri-ciri yang dibentuk melalui proses sosial. Identitas sebagai “proses menjadi”, mengandaikan ciri-ciri tidak bersifat alamiah namun dibentuk secara sosial. Ciri-ciri tersebut ditanamkan baik secara individual maupun kelompok melalui proses-proses sosialisasi. Pada tingkat kelompok identitas semacam ini mewujud dalam kesamaan ide, gagasan, nilai, kebiasaan-kebiasaan baru yang menghasilkan praktik-praktik kehidupan sosial baru. Karena itu, identitas ini tidak dikenali dari ciri-ciri lahiriyah.

Pembentukan identitas juga terkait relasi antara identitas diri dan identitas sosial. Eric Fromm (1947), seorang pakar psiko-sosial menyatakan identitas diri dapat dibedakan antara satu individu dengan lainnya. Namun identitas diri tidak dapat dilepaskan dari identitas sosial individu dalam konteks komunitasnya. Selain sebagai makhluk individual, manusia sekaligus juga mahkluk sosial. Dalam membangun identitas dirinya, manusia tidak dapat mengabaikan diri dari norma yang mengikat semua warga di mana ia hidup. Identitas tersebut juga menentukan peran sosial apa yang seharusnya dijalankan dalam masyarakat. 

KONSEKUENSI IDENTITAS SOSIAL: EKSKLUSI DAN INKLUSI
Akhir-akhir ini, terjadi banyak konflik yang berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Adakah kalian pernah berfikir bagaimana konflik-konflik tersebut dapat terjadi? Di kalangan pelajar acapkali kita menyaksikan tawuran antarsekolah. Konflik juga dapat berupa tawuran antarkampung, perkelahian massal suporter bola, hingga konflik paling sensitif yakni konflik berbasis SARA. Beragam konflik yang terjadi jika dilihat dari jenis konflik yang ada, berpangkal pada satu hal yakni identitas.

Identitas menjadi dasar bagi seseorang untuk mengikatkan dirinya pada komunitas atau kelompoknya. Ikatan tersebut memunculkan kedekatan dengan orang-orang yang memiliki kesamaan identitas. Kelompok juga membuka diri bagi individu-individu yang memilki kesamaan identitas. Proses membuka diri terhadap individu yang memiliki kesamaan identitas inilah yang dikenal dengan watak inklusif. Ikatan-ikatan inilah yang pada akhirnya membuat perbedaan antar kelompok.

Dari identitas melahirkan perasaan dan keinginan untuk membedakan satu di antara yang lain. Dorongan untuk membedakan diri dengan orang lain pada gilirannnya akan memicu pemikiran superioritas. Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

Eksklusifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial. Keragaman identitas di Indonesia seharusnya dipandang sebagai kekayaan identitas di mana kekayaan tersebut justru menjadi kekuatan bangsa dalam menatap masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan bagi setiap kelompok anak bangsa dalam mengembangkan karakter inklusifnya.

Referensi: Sari Oktafiana, dkk. 2021. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMA Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Identitas Sosial - Pengertian, Pembentukan, dan Konsekuensinya Identitas Sosial - Pengertian, Pembentukan, dan Konsekuensinya Reviewed by MGMP SOSIOLOGI on Januari 24, 2023 Rating: 5

52 komentar:

  1. Nama : Apriyana Kharisma Dewi
    No. 6
    Kelas: X3

    Mengapa kita harus menghindari sikap eksklusivisme Karena,ekskluvisme paham untuk memisahkan diri dari masyarakat luas sehingga ekskluvisme membuat hilangnya nilai kebersamaan,nilai kekeluargaan,nilai sosial dan lainnya. Jadi, ekskluvisme harus dihindari.

    BalasHapus
  2. Nama : Fira Ariska
    Kelas : X2
    No : 14

    Karena eksklusifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yg berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  3. Nama : Takia Putri Ramadhani
    No : 32
    Kelas : X4
    Mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme ?

    Menurut El Rais (2012), eksklusivisme merupakan serangkaian pemahaman yang berkecenderungan untuk kemudian memisahkan diri dari mmasyarakat.
    Karena sikap eksklusivisme mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan kelompok / menutup dirinya dari dunia luar atau mengekslusifkan kelompok atau golongan tertentu.

    BalasHapus
  4. Nama : Frestia Septian Salsabilla
    Kelas : X4
    No. Absen : 13

    eksklusivisme merupakan serangkaian pemahaman yang berkecenderungan untuk kemudian memisahkan diri dari mmasyarakat. Karena sikap eksklusivisme daripada kepentingan kelompok mengutamakan kepentingan pribadi menutup dirinya dari dunia luar atau mengekslusifkan kelompok atau golongan tertentu.

    BalasHapus
  5. Nama : Naisya Pepriani
    Kelas : X4
    No.absen : 24

    *Sebagai makhluk sosial mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme???

    ✓ Karena sikap eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antar pihak yang berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  6. Nama :Galih putra utama
    No :14
    kls : X4

    Adanya anggapan dalam diri individu bahwa kepentingan kelompoknya ialah kepentingan yang paling utama di atas kepentingan lainnya. Individu cenderung tertutup pada dunia luar dan sulit untuk terpengaruh budaya lain.

    BalasHapus
  7. Nama. : Rizki Tito Pratama
    No. : 28
    kelas : X4

    Karena sikap eksklusivisme selalu memisahkan diri dari kehidupan sosial di masyarakat karena adanya jurang pemisah akibat perbedaan suku bangsa,adat istiadat,agama,dan bahasa daerah

    BalasHapus
  8. Nama: Clara bella dama putri
    No:07
    Kelas: X2

    BalasHapus
    Balasan
    1. eksklusivisme merupakan serangkaian pemahaman yang berkecenderungan untuk kemudian memisahkan diri dari mmasyarakat. Karena sikap eksklusivisme daripada kepentingan kelompok mengutamakan kepentingan pribadi menutup dirinya dari dunia luar atau mengekslusifkan kelompok atau golongan tertentu.

      Hapus
  9. Nama: dheniz amelliya anggraeny
    Kelas: X2
    No absen: 09
    sikap eksklusivusme tidak di anjurkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena adanya suatu kegiatan mengkhususkan atau memprioritaskan individu.

    BalasHapus
  10. Nama:Farizqi Khumaera Azizah
    Kelas:X2
    No absen:12

    Karena sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran ini juga dapat memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial

    BalasHapus
  11. Nama: Azmi Nuriani
    Kelas:X4
    No absen:04

    Karena eksklusivisme sangat rawan menyingung pihak lain yang tidak sepaham dengannya.pemikiran tersebut memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  12. Nama: ABIYYA SOFIA ECCA
    Kelas:. X4
    No:01
    Eksklusivisme merupakan serangkaian pemahaman yang berkencenderungan untuk kemudian memisahkan diri dari masyarakat.
    Karena sikap eksklusivisme mementingkan kepentingan pribadi daripada kelompok

    BalasHapus
  13. Nama:Fauziyyah Zulfaa Aidah
    Kelas:X2
    Absen:13

    eksklusivisme merupakan serangkaian pemahaman yang berkecenderungan untuk kemudian memisahkan diri dari mmasyarakat. Karena sikap eksklusivisme daripada kepentingan kelompok mengutamakan kepentingan pribadi menutup dirinya dari dunia luar atau mengekslusifkan kelompok atau golongan tertentu.

    BalasHapus
  14. nama : aulia diva pualam sakti
    kelas : x3
    absen : 07

    Sebagai makhluk sosial mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme???
    => Karena sikap eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antar pihak yang berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  15. Nama : Erik Rina Asih
    Kelas : X4
    No : 09

    Sebagai makhluk sosial mengapa kit tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme ?

    Jawab:
    Karena sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  16. Nama: Kayla Nazwa Aurani
    No abs: 22
    Kelas: X3

    Sebagai makhluk sosial, mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap ekskusivisme?

    Jawab:

    Karena, sebagai makhluk sosial lebih

    condong untuk hidup berkoloni,

    golongan atau kelompok tertentu.

    berkelompok yakni dengan membentuk Sebenarnya, tujuan pembentukan kelompok yang dilakukan oleh mempunyai tujuan yang baik, yakni sebagai wadah di dalam mewujudkan tujuan kelompok serta sebagai wadah untuk melakukan jenis interkasi sosial yang saling memembantu dengan sesamanya.

    BalasHapus
  17. Nama: Ana Nova Hartanti
    Kelas: X4
    No. urut: 02

    Sebagai makhluk sosial mengapa kit tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme ?

    eksklusivisme sangat rawan menyingung pihak lain yang tidak sepaham dengannya.pemikiran tersebut memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  18. Nama : Fiorentina Aulia Rahmadani
    Kelas : X4
    No : 12

    Sebagai makhluk sosial, mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme?

    Jawab:
    Karena sikap eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengan dengannya. Pemikiran tersebut juga dapat memicu ketegangan antar pihak yang berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  19. Febriana nur arifah
    Kls: X4
    Absen: 11

    Jwb:
    karena sikap eksklusivisme ialah bentuk hubungan sosial individu yang menutup dirinya dari dunia luar atau mengekslusifkan kelompok atau golongan tertentu.

    BalasHapus
  20. ANGELINA EKA DESMANINGRUM
    X3
    03
    Karena ekskluvisme paham untuk memisahkan diri dari masyarakat luas sehingga ekskluvisme membuat hilangnya nilai kebersamaan,nilai kekeluargaan,nilai sosial dan lainya. Jadi ekskluvisme harus dihindari

    BalasHapus
  21. Nama :Nina Indika
    No :23
    kls : X1

    Adanya anggapan dalam diri individu bahwa kepentingan kelompoknya ialah kepentingan yang paling utama di atas kepentingan lainnya. Individu cenderung tertutup pada dunia luar dan sulit untuk terpengaruh budaya lain.

    BalasHapus
  22. X 3
    31

    Karena sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  23. Nama : Jolin Okta Meliana
    Kelas : X3

    Eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  24. Nama : Angella Citra Ramadhani
    Kelas : X3

    Karena Eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  25. Nama : Indah Saputri
    Kelas : X3

    Karena Eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  26. Nama : Azkia Zahra Dianavi
    Kelas : X3

    karena eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  27. nama:Elsa artika indiana
    no:16
    kelas:X-3
    karena eksklusifitas sangat rawN menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya.pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yg berkunjungan konflik sosial

    BalasHapus
  28. X 3
    25

    karena eksklusivisme akan memicu pemikiran superioritas dan sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengan kita.

    BalasHapus
  29. Nama : Lintang Raras Anindita
    Kelas : X4
    No=20

    karena eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  30. Nama: Retno Wulandari
    No.abs: 29
    Kelas: X2

    karena sifat eksklusivisme sangat rawan menginggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang berujung pada konflik sosial.

    BalasHapus
  31. nama:Mella Lusita Wulan Ningrum
    nomer absen:22
    kelas:X1

    Karena ,ekskluvisme paham untuk memisahkan diri dari masyarakat luas sehingga ekskluvisme membuat hilangnya nilai kebersamaan ,nilai kekeluargaan,nilai sosial .ekskluvisme harus dihindari

    BalasHapus
  32. Nama: Adelia Pastika
    Absen: 2
    Kelas: X2

    Sikap eksklusivisme tidak dianjurkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena adanya suatu kegiatan mengkhususkan atau memprioritaskan individu.

    BalasHapus
  33. Nama : Nirina Wulan Agustina
    No : 25
    Kelas : X-4

    Mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme ?
    -Karena sikap eksklusifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham atau sependapat dengannya. Pemikiran ini juga dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus
  34. Nur Zahidan Akbar Tsalatsa30 Januari 2023 pukul 00.05

    Nama: Nur Zahidan Akbar Tsalatsa
    Absen: 26
    Kelas: X3

    Sikap eksklusivisme tidak dianjurkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena adanya suatu kegiatan mengkhususkan atau memprioritaskan individu.

    BalasHapus
  35. Nama:cindi aprian bakdanka permata sari
    Kelas:x4
    No:05

    Karena sifat ekslusivisme adalah sifat yang menganggap bahwa hanya pandangan dan kelompoknya yang paling benar.dan sifat itu bisa menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya

    BalasHapus
  36. Nama: Cinta fajar dwi maryani Nomor: 06
    Kelas: X4
    Sebagai makhluk sosial mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme?
    Jawab : Karena sikap eksklusivisme sangat rawan menyingung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antara pihak yang berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  37. Nama:Pika Silvia Septiani
    Kelas:X2
    Absen:26
    Mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sifat eksklusivisme: karena sifat tersebut paham untuk memisahkan diri dari masyarakat luar sehingga eksklusivisme membuat hilangnya nilai kebersamaan,nilai kekeluargaan,nilai sosial dan yang lain-lain

    BalasHapus
  38. Nama: Salsabila Nur Hasanah
    No.Absen: 28
    Kelas: X1

    karena sifat tersebut dapat memisahkan dari masyarakat luas, sehingga eksklusivisme membiat hilangnya nilai kebersamaan, kekeluargaan, sosial, dan lainnya pada masyarakat. Jadi eksklusivisme harus dihindari oleh masyarakat.

    BalasHapus
  39. Nama : Sabrina Citra Aulia
    Kelas : X2
    No : 31

    Sebagai Makhluk sosial mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap ekslusivisme

    - Jawaban -

    Karena eksklusifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yg berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  40. Nama : Lukas Cristian
    Kelas : X4
    No : 21

    Sikap Eksklusivisme adalah pandangan yang menganggap suatu kelompok atau individu itu sendiri merasa paling unggul atau baik dari yang lain.
    Oleh karena itu, sikap Eksklusivisme dihindari agar tidak menimbulkan rasa dendam dan tidak menghilangkan rasa kebersamaan.

    BalasHapus
  41. Nama:Melisa Dewi Suciati
    Kelas:X.2
    No : 22
    Karena eksklusifitas sangat rawan
    menyinggung pihak lain yang tidak tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yg berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  42. Nama=Erinda Naila Yustiasari
    No=10
    Kls=X2
    Karena ekskultifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yg tdk tersebut dpat memicu ketegangan antar pihak yang berkunjung konflik sosial

    BalasHapus
  43. Nama : oktavia widya wati
    No absen: 27
    Kelas: X4

    Karena eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial. Dorongan semacam ini dapat beruoa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya , sementara kelompok main lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  44. Nama : Azrul Kharim Maulana
    Nomor : 04
    Kelas : X4
    Sebagai makhluk sosial mengapa kita tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme?
    Jawab : Karena sikap eksklusivisme sangat rawan menyingung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antara pihak yang berkunjung konflik sosial.

    BalasHapus
  45. nama : sisi citra anggo
    kelas : x 3
    no : 33

    karena sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial

    BalasHapus
  46. Nama:Cheren putri m
    No absen:11
    Kelas:X3
    Karena eksklusifitas sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak tersebut dapat memicu ketegangan antat pihak yang berkunjunh konflik sosial

    BalasHapus
  47. Nama : Chika Agustin Amauri
    Kelas : X 3
    No:11

    Eksklusivisme sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antarpihak yang dapat berujung konflik sosial.Dorongan semacam ini dapat berupa merasa kelompok sendiri paling unggul atau paling benar, dan sebagainya, sementara kelompok lain lebih rendah atau salah. Pada titik ini sesungguhnya kelompok ini menjadi eksklusif atau membatasi dirinya dengan kelompok lain.

    BalasHapus
  48. Nama : Desty eka pratiwi
    Kelas : X3

    Timbulnya keadaan dalam masyarakat yang dengan ketertutupannya akan dunia lainnya dapat tetap mempertahankan kebudayaan yang berada dalam kelompoknya. 

    BalasHapus
  49. Nama : Alifah Nawang Wulan
    Kelas :X2
    Absen :04

    Sikap eksklusivisme tidak dianjurkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena adanya suatu kegiatan mengkhususkan atau memprioritaskan individu

    BalasHapus
  50. Nama : Eva widianingrum
    Kelas : x2
    Absen : 11

    sikap eksklusivisme tidak dianjurkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena adanya suatu kegiatan mengkhususkan atau mempriotaskan individu

    BalasHapus
  51. Nama : lyra vantika jaya sari
    Kelas : X4
    No : 22

    Sebagai makhluk sosial mengapa kit tidak sepatutnya memiliki sikap eksklusivisme ?

    Jawab:
    Karena sangat rawan menyinggung pihak lain yang tidak sepaham dengannya. Pemikiran tersebut dapat memicu ketegangan antar pihak yang dapat berujung konflik sosial.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.